Minggu Palmarum


Minggu Palmarum adalah peringatan ketika Yesus datang ke Jerusalem. Kejadiannya tepat seminggu sebelum penyaliban.

Dia datang dengan mengendarai keledai muda. Sebegitu sederhananya dia datang walau sambutan semua orang begitu megah terhadap kedatanganNya. Di injil dituliskan bahwa sampai orang orang membuka jubahnya untuk menjadi alas jalan keledai tersebut. Pada saat itu jugalah banyak yang membuat ranting palem untuk menjadi alas selain jubah mereka. Asal palmarum adalah dari sambutan tersebut dan digunakannya palem untuk menyambut Yesus.

Dia datang untuk memenuhi tugasNya; tugas untuk menebus dan tugas untuk membebaskan. Orang orang menganggap Yesus pada waktu itu mungkin sebagai pembebas dari penjajahan, Raja yang dulu mereka tunggu selama itu. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa banyak orang orang di Yerusalem banyak mengeluelukan Yesus. Mungkin juga karena mereka memang percaya, seperti yang dituliskan dalam injil. Karena banyaknya mujizat yang dilakukan Yesus selama perjalanannya, sehingga orang orang mengharapkan mujizat itu terjadi pada diri mereka juga. Siapa yang tidak mau mujizat terjadi dalam dirinya? Saya mau, Anda juga pasti mau.

Karena bosan akan penjajahan dan datangnya Yesus sebagai orang yang disebut sebagai pembebas, mereka menyambut Yesus dengan semangat. Mujizat yang mereka harapkan juga adalah pembebasan dari semua penindasan. Namun saat itu mereka sepertinya salah mengerti mengenai pembebasan yang akan diberikan. Di depannya bukankah orang orang yang sama juga yang akan meminta Yesus disalibkan?

Sama halnya seperti sekarang, banyak orang ke gereja, berharap bukan untuk keselamatan dari dosa, melainkan meminta rezeki. Meminta dikasih tokonya laku keras terus, meminta bosnya cepat cepat diganti, atau mungkin meminta kucing kesayangannya dibangkitkan dari kubur…

Hal yang sama juga harus kita mengerti. Yesus datang untuk memberikan pembebasan bagi diri kita, bukan pembebasan dari kerjaan yang menumpuk bukan juga dari kesulitan ekonomi. Yesus memberikan pembebasan dari dosa dan itu pun bukan karena saya minta atau Anda minta, dikasih gratis di muka.

Saya sebenarnya lebih suka kalau dibebaskan dari semua kendala duniawi, seperti mau ini itu selalu langsung ada, semacam doraemonlah. Namun yang didapat malah pembebasan dari dosa. Ya memang semacamnya kurang berarti, tapi cuma itulah pembebasan dosa yang tersedia. Hutang dosa dibayar pakai good deeds? Gak bisa juga kan? Tetap aja melekat dosa itu di diri saya sendiri. Namun sekali ini Yesus datang, santai naik keledai, ga pakai babibubebo, datang dan menjanjikan keselamatan. Dosa saya dihapuskan.

Lalu apa yang harus saya lakukan? Menjadi Jerusalem baru. Membuka hati saya dengan sukacita. Menyambut keselamatan yang akan diberikan. Menerima keselamatan itu, lalu menyalurkan keselamatan itu ke banyak orang. Menjadi berkat karena keselamatan itu.

Bukankah kalau hati kita selalu sukacita dan senang, kerjaan terasa ringan? Bukannya waktu kita bersyukur, kita menyadari betapa beruntungnya kita? Bukankah ketika kita menyadari bahwa semuanya akan habis dan semua itu sia sia, kita tidak akan merasa kehilangan apapun? Bukankah ketika kita tahu kalau kita akan mati nanti dan sudah diselamatkan, kita menjadi tidak perlu takut?

Keselamatan dosa itu lebih nikmat daripada kebebasan dari ikatan duniawi. Dan pastinya, apapun yang kita hadapu, masalah apapun itu, kalau Tuhan yang menyuruh, pastinya kita akan diberkati dan kita akan berhasil.

Advertisements

Author: Aditya Yedija Situmeang

Developer, Lover, Christian, Omnomnomnivore, Gamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s