Minggu Okuli


Apa arti minggu okuli? Okuli sendiri berasal dsri kata okulus yang berarti mata. Penamaan kinggu ini sendiri mungkin diambil dari kitab Mazmur 145: 15. Di sana itu ada tertulis “Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; “. Melihat, berarti ada di depan mata, dalam jangkauan jarak pandang. Ya kita ada di belakang Tuhan dong, ngikut Dia.

Sebagai pengikut Kristus, kita melihat Yesus sebagai teladan dan panutan. Kita juga mempercayaiNya dan melakukan segal perintahnya. Kenapa segalanya? Karena ga ada perintah Tuhan yang aneh aneh. Kita tidak disuruh menggoreng kelabang untuk masuk surga kok. Kita diminta mengasihi semua orang. Kita juga ngikut karena Dia teman kita. Waktu down banget, ngapain kita? Ya ngobrol sama temen, curhat. Yang selalu standby denger curhat kita, ya Tuhan doang.

Nah, di minggu ini, khotbah di HKBP diambil dari Markus 12:41-44 tentang janda itu loh. Janda itu memberikan seluruh miliknya. Tak usah khawatir akan hari esok. Selama kita bisa bekerja dan percaya pada Tuhan, maka akan selalu tercukupilah hidup kita. Akan bahagialah dirinya. Mengapa kita tak menjadi seperti dia? Berserah pada Tuhan. Tuhan sayang kita kok, bukan yang buruk direncanakan, tapi yang baik. Kerjain, berdoa, percaya, lanjut kerjain, pasti dikasih yang berkenan di hadapanNya.

Seperti janda itu, kita juga diminta memberikan seluruh kita pada Tuhan. Bukan jumlah, tapi persentase. Ga berarti kita kasih semua terus ga makan. Tapi apa yang ada pada kita, jadikan itu saluran berkat. Berikanlah dengan tulus! Berikanlah dengan baik.

Dari sini, kita sering merasa ingin memberi dengan harapan kalau Tuhan akan membalas berkali lipat. Wah, ya ga gitu juga. Itu pamrih namanya. Kita memberi, karena sudah diberi terlebih dahulu. Kalo gitu kita harus kaya dulu dong baru memberi, yekalik! Emang jandanya kaya ketika memberi? Dua peser doang kok dia kasih ke dalam peti persembahan, tapi sepenuh hati dan dia tau betul kalau dua peser itu bakalan jadi berkat bagi orang lain.

Tiap tahun, khotbah okuli ini selalu bertambah, begitu juga blog post ini semakin melebar. Tahun ini, 2019, saya diajarkan untuk kembali melihat. Melihat banyak hal, jatuhnya orang fasik di sekitarku (Maz 91), berkat yang selalu turun atas diriku sendiri (Maz 8), dan melihat orang orang yang butuh dan rindu akan pelayanan (Yoh 4:35; 1 Pet 4:10-11).

Sadar ga sih, kalo kerja keras doang juga manusia sukses? Ya bener, emang sukses, dan kerja keras itu kunci kesuksesan. Mereka juga melakukan hal baik. Kalau mereka sukses dari kefasikan, itu bakalan hilang dengan cepat. Ga pake lama lama, pasti hilang dan mereka stay dalam kefasikannya. Pernah ga tau orang yang kerja keras, baik dulunya, hidupnya cukup, anaknya sukses, jalan jalan dibayarin anaknya, masa tuanya dihabiskan main main dengan cucu? Dari beberapa orang yang aku tau hidupnya begitu sih, mereka selalu melihat Tuhan dalam kerja kerasnya. Mereka selalu jadi saluran berkat dalam masa hidupnya. Kesuksesan mereka adalah menjadi berkat, dan mereka tidak goyang, sebab Tuhan jadi sandarannya.

Sadar juga ga sih, kalau kita diberikan berkat tiap hari san mujizat itu terjadi dalam setiap langkah kita? Waktu kita jalan sore, kita melihat matahari senja warnanya orange dan enak dilihat. Waktu kita duduk di teras, liat bunga bermekaran, indah gitu rasanya. Mujizat itu bukan hanya hal besar kaya menang jackpot lotre. Kalo nunggu itu ya kita bakalan depresi. Mujizat kecil di sekeliling kita aja lihat. Butuh ngobrol, ada temen. Butuh penyegaran, ada alam indah. Butuh penyemangat, ada ayat alkitab. Berkat itu datang tiap hari dan kita yang belajar buat menghitungnya biar jauh dari kefasikan.

Sadar juga ga sih, kalau kita punya temen yang pengen banget denger firman, tapi sering dicengin sampe akhirnya dia menutup diri? Kepekaan kita harus ditingkatin buat mengerti orang orang tersebut. Bukan hanya dari aspek kita harus menyebarkan firman, tapi juga psikologis orang tersebut bisa terganggu kalau dia ga dapat yang dia butuh. Kita sering ngetawain orang yang ngutip ayat alkitab, ga sadar kalau yang denger ada aja yang kesentuh. Panggilan jiwa itu ga harus di gereja doang kalik. Cobalah semakin peka akan kebutuhan orang akan firman Tuhan, dan jadilah saluran firman buat dia.

Yang terakhir mungkin kita sering merasa kalau yang diceritain pendeta itu banyakan bohongnya. Mengasihi musuhlah, pake didoain lagi, bisa gila. Tapi kalo kita baca alkitab terus, baca lagi, baca lagi, ya lama lama ngerti. Okuli kita terbuka dan kita semakin paham atas firman. Kita ga bakalan kaya di Mat 13:14 lagi, kita jadi mengerti. Dan ketika firman itu kita mengerti dan menjadi kesukaan kita, maka kita bisa dengan mudah menjadi saluran berkat, dijaga dari kejatuhan dengan orang fasik, tahu bersyukur, dan bisa hidup dalam kerajaan Tuhan.

Author: Aditya Yedija Situmeang

Developer, Lover, Christian, Omnomnomnivore, Gamer.

One thought on “Minggu Okuli”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s