Hardships


Terinspirasi dari post junior saya di blognya, akhirnya postingan ini dibuat. Banyak memang hal baru dan sangat baru yang sama yang saya rasakan ketika pertama kali merantau sampai sejauh ini. Saya juga dituntut untuk membiasakan diri dan beradaptasi terhadap lingkungan baru. Pertanyaan yang membuat posting ini saya rasa harus dibuat adalah, sampai sejauh apakah kita harus berubah dan beradaptasi terhadap hal baru?

Tentunya setiap orang memiliki nilai yang dianggapnya sebagai nilai luhur. Nilai yang dianggap sebagai pemandu diri dan sebagai pedoman. Nilai tersebut entah ditanamkan dari orang tua, teman, atau lingkungan yang ada sampai sejauh dia berjalan dalam hidupnya. Begitu juga dengan saya, saya memiliki nilai nilai yang saya anggap nilai yang selalu benar dan menjadi pedoman saya dalam menjalani setiap kegiatan saya.

Ketika dihadapkan dengan lingkungan baru, apakah nilai tersebut akan berubah? Bisa saja, tentunya ada probabilitas demikian. Perubahan nilai tersebut disebabkan oleh perlunya saya melakukan adaptasi terhadap lingkungan baru saya. Tidak hanya ketika berganti kota tempat tinggal, namun juga ketika berganti tempat kerja. Nilai yang kita anut bisa saja berubah tiap waktu.

Perubahan tersebut tentunya tidak mungkin terjadi secara keseluruhan. Haruslah dilakukan filtering terhadap perubahan tersebut. Nilai yang diajarkan tentunya ada yang saya rasa baik dan saya harus pertahankan. Misalkan, menghargai kerjaan orang, berlaku adil ketika dihadapkan dengan situasi ketika orang melakukan kesalahan terhadap saya. Bisa saja saya menjadi berlaku tidak adil atau menjadi tidak mau menghargai orang. Tapi saya melakukan filtering terhadap hal tersebut dan saya sadar, nilai tersebut baik dan harus dipertahankan.

Jadi, memang kita merubah diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Memang perlakuan orang dan nilai nilai tiap orang berbeda dengan yang kita anut, namun jika memang terjadi hal buruk, janganlah sebaiknya kita mengikuti dan menjadi buruk. Seharusnya tetap kita menjaga nilai nilai yang baik yang ada pada diri kita sendiri dan menunjukkannya pada orang orang. Gak salah juga kan kalau memang kita bisa berlaku baik di saat tiap orang berlaku jahat. Namun ingat, jangan menjadi naif dan akhirnya malah salah dalam bertindak.

Akhirnya, sampai sekarang juga saya masih menjaga logat batak dan medan saya ketika bicara. Karena memang saya merasa logat tersebut adalah identitas saya. Post ini juga menurut saya adalah pelengkap dari post junior saya tersebut karena memang demikian tujuannya, menjelaskan perubahan itu bagaimana seharusnya. Dan pesan saya terhadap junior saya tersebut, ingat jugalah nilai yang sudah ditanamkan almamater, Martuhan, Marroha, Marbisuk.

Advertisements

Author: Aditya Yedija Situmeang

Developer, Lover, Christian, Omnomnomnivore, Gamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s